14 Januari 2016

Mengukur Jalan, Mengulur Waktu


Mengukur Jalan, Mengulur Waktu merupakan buku kumpulan puisi pertama saya.

Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Penerbit Gambang Buku Budaya pada akhir tahun 2015.

Untuk mendapatkan buku ini silakan kontak:
1. Jual Buku Sastra (tlp/wa: +62818-0271-752, twitter: @Jualbukusastra)
2. Ilham Miftahudin (tlp/wa: +62857-2380-1913, twitter: @ilhammift)
3. Penerbit Gambang Buku Budaya (tlp/wa: +62856-4303-9249 a.n. Dito)


Sampul depan Mengukur Jalan, Mengulur Waktu.























Judul: Mengukur Jalan, Mengulur Waktu
Penerbit: Gambang Buku Budaya
Perancang Sampul: Damar N Sosodoro
Perancang isi: Mawaidi D Mas
Tebal: viii + 61 hlm.
Ukuran: 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-72761-6-1

02 Desember 2014

Di Lereng Merbabu, Sajak Kembali Padaku


telah terlalu lama kata-kata
mengering di balik dadaku
menguap entah ke mana
persis semasa kemarau

namun selepas hujan
sepanjang sore di lereng merbabu
perlahan sajak turun menyusup
kembali bersama kabut ke dalam jiwa

tembakau merbabu yang berat
kuhisap-hembuskan penuh nikmat
menjadi kepulan perayaan
atas hadirnya lagi dalam diri

2014

09 Agustus 2014

Menuju Pelaminan

sewindu kita memadu kasih
jarak senantiasa merawat rindu
supaya kita lebih tabah
bukan sekadar pasrah

selama itu pula kita sabar
bertukar janji dengan ciuman
dari sepasang daging
yang disebut bibir

waktu perlahan membimbing kita
menuju ke arah pelaminan
sebuah perhentian
sekaligus permulaan


2014

07 Mei 2014

Seperti Kesunyian

:El Gabo

seperti kesunyian
menjelma macondo yang malang
roh jahat dan bayang ketakutan
menyerupai ujung bedil
mengarah pada kepala kerdil

bumi adalah anak yatim
terus diserbu pengungsi
dengan perut lapar tanpa harapan
tank-tank pembunuh bagai badai
mengintai bangsa manusia

bocah yang tak mengerti
kenapa dunia diciptakan
dari jutaan selongsong peluru
tak pernah bisa bertanya
selain mengisap ingusnya sendiri

2014

24 Januari 2014

Lagu untuk Azaro

Lagu untuk Azaro

entah ke dunia mana
malam akan membawa
sebab langit gelap
tak tentu arah, azaro

segelas air hangat
merawat tubuh
menguapkan kata-kata
terpendam dalam tulang

sementara angin
tetap terasa dingin
tak pernah berubah
dari waktu ke waktu

rindu telah berungkali
menjadi puisi
jalan yang terlalu liris
sangat membosankan

roh-roh di balik diri
terus saja berbisik
walau tak semuanya
dapat dipercaya

ada yang membisik
ole-ole masa lalu
tak sedikit pula
meramal masa depan

ah, azaro
kenapa mereka cerewet
seolah tak percaya
kita tak ingin dilahirkan

2013

20 Desember 2013

Sihir Matamu

Sihir Matamu

pada matamu yang setajam badik
aku tak kuasa melarikan diri
dari gairah paling kudus

setiap kali matamu terbuka
kesunyian menarik diriku
ke dalam kekosongan

waktu juga detak jantungku
tak sanggup lagi berdetak
terpaku sihir matamu

2013

19 Desember 2013

Di Ambang Petang

Di Ambang Petang

berjalan pada sebuah dermaga
lurus sampai batas cakrawala
laut memeluk ruh begitu erat

di udara camar masih menari
mantra-mantra dibisikan angin
persis pesta juga upacara duka

langkah semakin tak menapak
arak-arakan gerombolan awan
di ambang langit bumi petang

2013

29 November 2013

Senja di Tanjung Palette

Senja di Tanjung Palette

di ujung senja bercampur gerimis
jejak-jejak waktu terus berderak
sepanjang jembatan kayu renta

angin utara menjadikannya hujan
gelombang laut semakin kencang
buih-buihnya menerjang karang

sunyi tanjung mendekap jantung
mencatat kekosongan tebing jiwa
menyiratkan segala tentang maut

2013

21 November 2013

Malam Hujan di Teluk Bone

Yopi Setia Umbara
Malam Hujan di Teluk Bone

daun-daun pohon mangga menunduk
mendengarkan irama gerimis
bercampur aroma udang dan sihir
pada bumi berlapis pasir

teluk bone adalah rahasia
di dalam rumah-rumah panggung
di antara keheningan barisan lontara
juga lagu ugi yang dinyanyikan angin

2013

06 November 2013

Lembah Cihideung

Lembah Cihideung 

matahari begitu hangat dan intim
angin senantiasa berbisik perlahan

jejak-jejaknya menjadi kembang
mekar meriah pada punggung tanah

aroma pepohonan merawat hawa
juga segenap kesunyian paling dingin

2013



Cihideung 谷

太陽が暖かくて、親密で、
風が常にやさしくささやき。

足跡は花になれ、
土の裏ににぎやかで咲いた。

木の香りが天気を守り、
もっともさむい寂しいさ。

2013
(Diterjemahkan oleh Rosi Rosiah)

28 Oktober 2013

Banjir Cileuncang di Panorama

Tidak lebih dari sepuluh menit setelah hujan turun. Air deras mengalir di luar lubang pembuangan di bilangan Jalan Dr. Setiabudhi. Aliran cileuncang yang tak terbendung itu menggenangi halaman beragam tempat usaha di sekitarnya. Padahal hujan yang turun tidak deras-deras amat.
 
Kejadian yang tiba-tiba itu memaksa para pemilik tempat usaha di sekitar situ siaga satu. Dengan peralatan sederhana, bahkan dengan tangan kosong mereka memunguti sampah-sampah yang terbawa arus dan menahan aliran air yang sangat kotor. Kalau tidak, cileuncang bisa membanjiri tempat usaha mereka.

Pada saat kejadian, saya sendiri sedang membeli rokok pada salahsatu warung di daerah yang akrab disebut Panorama tersebut. Kios rokok itu sendiri berada di seberang kampus Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (FPTK UPI), di antara warnet, bengkel motor, rumah makan, laundry, salon, tempat fotokopi, ada juga kantor Pegadaian di situ, dan lain-lain. Karena aliran cileuncang yang sangat deras saya terjebak di warung tempat membeli rokok.

Derasnya arus cileuncang nyaris merendam dan menyeret sepeda motor yang diparkir di sekitar tempat tersebut. Para pemilik tempat dan Satpam kantor Pegadaian kalangkabut dibuatnya. Mereka terus berusaha memunguti sampah yang menyumbat aliran cileuncang

Sementara para pejalan kaki kebingungan memlilih jalan yang kering, karena bahu jalan yang tersisa sudah digenangi cileuncang. Para pejalan pun terpaksa berjalan dalam cileuncang dengan resiko sepatu mereka basah. Jangan tanya trotoar di kota Bandung.

Arus lalu lintas cukup ramai pada saat kejadian (pukul 12-an siang). Kondisi itu sontak menjadi perhatian tersendiri para pengguna jalan raya. Beberapa orang tampak memotret cileuncang yang terus mengalir bak air bah itu menggunakan hp. Saya berharap foto banjir cileuncang yang mereka potret dijadikan postingan (yang di-cc kepada pihak-pihak yang terkait seperti Wali Kota Bandung) di Facebook atau Twitter mereka.

Hampir setengah jam lebih banjir cileuncang itu berlangsung. Memang tidak ada korban dalam kejadian yang bertepatan dengan anak-anak SD bubaran sekolah itu. Namun, kejadian ini merupakan indikasi bahwa drainase di sekitar Jalan Setiabudhi sangat buruk.

Terlepas dari habit masyarakat membuang sampah sembarangan sehingga menyebabkan aliran air tersumbat lalu keluar dari selokan, pemerintah kota Bandung mesti sigap untuk memperbaiki drainase di daerah tersebut. Sebab, kalau dibiarkan terlalu lama akan mengganggu pengguna jalan, masyarakat, dan pengusaha setempat.

Selain itu, banjir cileuncang sangat berdampak buruk bagi kesehatan juga tidak sedap dipandang mata. Apalagi Jalan Setiabudhi merupakan jalur wisata. Malu dong kalau ada turis lewat jalan yang dibanjiri cileuncang.



25 Oktober 2013

Jangan Main-main dengan Kutang



Jangan Main-main dengan Kutang
Oleh Yopi Setia Umbara

Pada Mimbar Freedom “Satu Nusa Satu Bangsat Two £anguange$” yang digelar  Freedom Institute (Kamis, 24 Oktober2013), Remy Sylado tampil dengan balutan kemeja safari putih, celana putih, dan sepatu berwarna putih. Ia menjinjing sebuah koper yang juga berwarna putih. Koper tersebut ternyata berisi naskah ceramah.

Remy Sylado ketika ceramah di Mimbar Freedom (foto: YSU)
Sejurus kemudian Remy berdiri di mimbar lantas menyampaikan ceramah kepada hadirin yang memenuhi ruang serbaguna Freedom Institute di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi No. 41, Jakarta. Naskah ceramah yang ditulisnya dengan menggunakan mesin tik itu adalah mengenai bahasa Indonesia dari jaman ke jaman.

Pada ceramahnya di Mimbar Freedom, Remy menyoroti mengenai hilangnya rasa kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Terutama ketika, “meng-Inggris-Inggriskan segala hal,” kata Remy. Fenomena itu pernah mendapat perhatian pula dari Presiden Republik Indonesia pertama.

Pada 17 Agustus 1959 Presiden Soekarno pernah menyampaikan pidato mengenai perkara ini dengan tajuk ”Penemuan Kembali Revolusi Kita.” Pada pidato itu muncul istilah ngak ngik ngok yang digunakan Soekarno terhadap hal-hal yang berbau Inggris-Amerika, baik untuk musik maupun penggunaan bahasa. Lucunya, “pada saat itu presiden (Soekarno, penulis) menegaskan pidatonya dengan menggunakan bahasa Inggris The Revolution of Our Discovery,” kata Remy.

Remy juga mengajak para hadirin yang menyimak ceramahnya pada malam itu untuk mengingat kosa kata warisan Belanda. Menurutnya, pada jaman Orde Lama banyak kosa kata peninggalan Belanda diganti dengan istilah-istilah Inggris yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. “Penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia itu tidak masalah, tapi sebaiknya dilafalkan sesuai dengan cara orang Indonesia,” tegas Remy.

Banyak penggunaan istilah bahasa Inggris di tempat umum yang menurut Remy tidak tepat. Salahsatu contoh yang sering kita lihat adalah penggunaan tanda masuk dan keluar. Jika di negara aslinya digunakan entrance untuk masuk dan exit untuk keluar, di Indonesia kebanyakan menggunakan in dan out. Apalagi di Ibukota negeri ini, Remy melihat begitu marak istilah Inggris, seperti busway, underpass, Jakarta Outer Ring Road (JORR), dan lain-lain.

Khusus untuk istilah JORR Remy berkelakar tentang seorang nenek-nenek dari Jawa yang datang ke Jakarta. “Oleh nenek-nenek tersebut, kepanjang JORR menjadi Jalan Ora Rampung-rampung,” canda Remy. Bisa jadi, itu merupakan cara jeprut Remy mengkritik tentang penggunaan istilah yang sok Inggris di ruang publik negeri ini juga mengenai pembangunan jalan di jakarta yang tidak selesai-selesai.

Remy juga tidak luput menceritakan kembali mengenai istilah “Kutang” yang awalnya populer dengan sebutan “BH” (Breast Holder) kemudian menjadi “Bra”. Istilah kutang itu sendiri berasal dari cerita mengenai pembuatan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Adalah seorang Don Lopez biang keroknya. Don Lopez melihat seorang perempuan bertelanjang dada, lantas ia menyuruh perempuan itu menutup dadanya dengan selembar kain.

Coutant, coutant,” kata Don Lopez kepada perempuan tersebut. Maksudnya tutup benda berharga milikmu (dada perempuan). Dari situlah kemudian istilah kutang muncul, karena lidah orang Indonesia sulit melafalkan kata coutant yang berasal dari bahasa Perancis. “Jadi kutang itu benda berharga, jangan main-masin sama kutang,” cerita Remy tentang kutang tersebut disambut tawa para hadirin. Cerita ini dapat juga dibaca dalam novelnya yang berjudul Novel Pangeran Dipenogoro, Menggagas Ratu Adil (2007).

Tapi, meskipun begitu banyak kata serapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia serta para pemimpin yang kerap menyusupkan istilah Inggris ketika tampil di televisi dan sebagainya, rupanya masih ada yang bisa diteladani untuk penggunaan bahasa Indonesia. “Hanya Penyair yang paling tertib berbahasa Indonesia. Penyair teladan bahasa Indonesia yang atas,” ujar Remy yang pada tahun ini menerbitkan buku terbarunya Kamus Isme-Isme (2013).

12 Oktober 2013

Obituari: Selamat Jalan Nandang Aradea

Obituari: Selamat Jalan Nandang Aradea

Oleh Yopi Setia Umbara

Indonesia kehilangan lagi putera terbaiknya untuk bidang drama.

Seminggu sebelum Nandang Aradea menderita pecah pembuluh darah dan dinyatakan mengalami pendarahan di otak (10/10/2013), saya diminta untuk mengetik ulang naskah-naskah artikelnya yang dipublikasikan di berbagai media massa.

Pada saat mulai mengetik ulang naskah (berupa fotokopi kliping surat kbar) bersama Edwar Maulana, saya mendapat berita bahwa ia masuk Rumah Sakit Sari Asih (RSSA), Serang, Banten (12/102013). Hari ini (12/10/2013) kabar duka itu pun tiba. Pada pukul 15.40 WIB ia dinyatakan meninggal di rumah sakit yang sama.

Namun demikian, pengetikan ulang naskah esainya akan tetap kami selesaikan. Semoga kelak naskah ini menjadi salahsatu dokumentasi literasi yang tetap bisa dibaca oleh masyarakat.

Nandang Aradea dilahirkan di Ciamis, Jawa Barat, 5 Juli 1971. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung ini, sempat pula mengikuti kuliah program magister pada fakultas penyutradaraan di Russian Academy of The Theatre Art (GITIS), Moskow, Rusia.

Ia adalah pengajar drama di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten. Ia dikenal sangat akrab dengan mahasiswa sehingga anak didiknya tidak segan menganggapnya kawan, bukan sekadar dosen.

Ia mulai mengenal dunia drama sejak masih menjadi mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Bandung (sekarang UPI). Di sana ia bergabung dengan UKM Teater Mahasiswa IKIP Bandung (kini Lakon Teater) sejak tahun 1990, dimana ia sempat ditunjuk menjadi ketua teater kampus IKIP Bandung yang selanjutnya ikut menggagasi pendiriaan Mainteater Bandung.

Pilihannya terjun ke dunia teater tidak setengah-setengah, bahkan sampai-sampai skripsinya pun bicara keaktoran. Banyak aktor terkenal di Indonesia pernah diwawancarai mengenai ikhwal proses kreatif mereka.

Pada Tahun 1995, ia terpilih sebagai wakil aktivis teater kampus untuk Indonesia dalam The Festival of Australian Student Theatre (FAST) di Latrobe University, Melbourne, Australia. Tahun 1998 ia hijrah dari Bandung ke Banten, sejak saat itu menjadi pengajar di Untirta dan mendirikan teater kampus bernama Teater Kafe Ide yang didirikannya bersama Wan Anwar.

Tahun 2002-2006 bekerja di Moskow, Rusia. Selama di Moskow, ia mengikuti berbagai pelatihan teater terutama pada The Chekhov International Theater ke IV, Olimpiade Teater Dunia I (2001) dan The Chekhov Internasional Theater Festival V (2003). Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan sebuah grup “teater profesional”, Teater Studio Indonesia.

Malah, pada hari ia dilarikan ke RSSA ia tengah mengawal proses garapan TSI, yaitu Overdose:Psycho-Catastrophe karyanya sendiri yang akan dipentaskan di Festival Tokyo 13 Jepang pada 9 November 2013 mendatang.

Seniman teater yang juga aktif memberikan workshop teater di berbagai komunitas ini juga rajin menulis artikel teater di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Artikel-artikel inilah yang sedang diketik ulang. Ia berharap warisan artikelnya tersebut bisa mewujud sebuah buku.

Kabar duka itu memang terlalu cepat. Selama beberapa tahun terakhir ia kerap melakukan cuci darah untuk pengobatan gagal ginjal yang dideritanya. Meski ia mengidap gagal ginjal, ia bukanlah orang yang pesimistis. Bahkan ia tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Ia justru mencurahkan pikirannya untuk berkarya dan bekerja keras. Sebagai pengajar dan seniman ia sangat patut diteladani.

Selamat jalan Nandang Aradea.

06 Oktober 2013

Basa Mah da Teu Meuli, Ketika Penulis Di-harkos

Basa Mah da Teu Meuli, Ketika Penulis Di-harkos

Sore hari kemarin (Sabtu, 5/10/2013) kawan saya Sahlan Bahuy begitu girang ketika mendapatkan email dari editor sebuah harian umum (HU) di Jawa Barat. Betapa ia tidak girang, sebab si editor tersebut memberitahukan bahwa artikel yang dikirimkan kawan saya akan dimuat pada hari ini (Minggu, 6/10/2013).

Kebetulan pada saat Bahuy menerima email, kami sedang sama-sama online di tempat yang sama.  Ia menunjukan email dari sang editor kepada saya. Sebagai kawan Bahuy, tentu saja saya ikut gembira dengan kabar itu. Kalau jadi dimuat, itu menjadi artikel pertamanya yang terbit di HU tersebut.

Dalam beberapa waktu ini, Bahuy sebenarnya sedang sibuk menyutradrai pementasan teater “Kembali” yang akan dipentaskan di IFI Bandung. Namun, di sela-sela kesibukannya ia selalu menyempatkan diri untuk membaca, mengapresiasi pertunjukan, dan menulis pertunjukan yang ia saksikan langsung.

Artikel yang dikirim Bahuy ke HU itu adalah apresiasinya terhadap pertunjukan dari Perancis  Vortex L’apres-Midi D’un Foehn Version 1 yang digelar di IFI Bandung (26, 27, dan 28 September 2013).

Malam Minggu itu juga Bahuy melakukan proses latihan teater “Kembali” di kampus UPI. Mengingat keesokan hari artikelnya akan dimuat, ia pun merayakan bersama tim pementasan. “Syukuran” itu dilakukan dengan makan malam bersama tim, menunya ayam goreng memakai uang dari kantongnya sendiri tentu saja.

Selesai latihan Bahuy istirahat di sekretariat Teater Lakon. Namun, ia gelisah tidak bisa tidur membayangkan artikelnya di muat di HU itu. Ia baru bisa tidur menjelang subuh. Lantas bangun agak kesiangan. Jam sembilan lebih ia baru bangun.

Sadar bangun agak kesiangan, Bahuy pun buru-buru pergi mencari koran ke pedagang eceran. Sekalian pergi mencari koran ia membawa galon air mineral untuk diisi ulang. Di Jalan Gegerkalong Girang rupanya koran yang dicari agak susah, ia pun memilih untuk mengisi ulang air mineral dahulu di agen isi ulang sekitar itu.

Setelah Bahuy berkeliling di sekitar Gegerkalong Girang dan Hilir dengan hasil nihil. Ia akhirnya mendapatkan koran yang dinantinya sejak kemarin di dekat swalayan Borma di Jalan Setiabudhi. Ia pun membeli dua eksemplar dari tukang eceran di sana. Lalu ia bergegas kembali ke sekretariat Teater lakon di kampus UPI.

Namun sial. Bahuy lupa mengisi bensin motor skuter matic yang dipakainya untuk mencari koran dan mengisi ulang galon air mineral. Bensin motornya habis tepat setelah masuk kampus UPI. Tanggung kembali ke pom bensin karena membawa galon, ia pun mendorong motor dengan tambahan beban sebuah galon.

Begitu sampai di sekretariat, Bahuy lantas memeriksa koran. Mencari artikel yang dijanjikan dimuat oleh sang editor HU. Ia langsung menuju halaman suplemen khusus hari Minggu. Namun, apa yang dicari tak ditemukannya. Di halaman suplemen tersebut hanya ada puisi, cerpen, dan esai bahasa.

Bahuy lantas memeriksa satu persatu halaman HU tersebut. Siapa tahu artikelnya dicetak di halaman lain. Akan tetapi, setelah dibolak-balik beberapa kali, artikelnya ternyata tidak terbit di HU tersebut.

Padahal pada email yang dia dapatkan, jelas sekali artikelnya akan dimuat pada hari Minggu, 6 Oktober 2013. Ini saya print screen email masuk milik Bahuy yang dimaksud. Namun, untuk menjaga etika saya hapus alamat email dan nama pengirimnya.




Persoalannya adalah kenapa sang editor tidak memberikan konfirmasi kepada Bahuy, bahwa artikelnya tidak jadi dimuat. Padahal basa mah da teu meuli (apa susahnya sih ngomong). Kalau memang tidak jadi dimuat, ya informasikan saja kepada penulis. Jangan penulis dikasih harkos (harapan kosong) seperti itu dong.

03 Oktober 2013

Sajak Ketika Sakit Gigi

Sajak Ketika Sakit Gigi

aku menulis sajak
dalam gelap malam
tanpa dirimu kekasih

tapi aku masih ingat
aroma buah dada
juga urat lehermu

sedangkan di langit
gerombolan tikus
terus mencari celah

bersiasat hendak mencuri
setiap kata dalam sajak
yang jadi penawar sakit gigi

2013