Cerpen
Yopi Setia Umbara
Di
Bawah Pohon Nangka Kali Cempaka

Langganan Mak Iyum adalah orang-orang yang
punya urusan dengan Gedung-gedung tinggi yang mengepung kali Cempaka. Mulai dari
pegawai bank, petugas kebersihan, penjaga toko, satpam, supir bajaj, sampai
tukang ojeg. Tidak heran memang kalau orang-orang itu memilih tempatnya. Alasannya sederhana, murah.
Aku adalah salahseorang langganan Mak Iyum. Setiap
pagi aku membeli sarapan dari lapaknya. Biasanya aku membungkus nasi dan lauk yang kubeli di sana untuk dimakan di
kantor. Namun, karena rekanku sedang ada urusan ke luar kota, aku tak punya teman makan. Maka, aku memilih
makan di luar. Sebab, rekan-rekanku yang lain biasanya sudah sarapan di rumah
masing-masing. Maklumlah, aku dan kawanku masih bujangan. Sedangkan yang lain
sudah berkeluarga, jadi hidup mereka sudah agak tertib.
Pagi ini aku sarapan dengan lauk sayur toge
dan telor ceplok plus sambal. Aku duduk pada sebuah bangku panjang, makan
sambil menenteng piring, karena memang tidak tersedia meja di lapak Mak Iyum. Makan
di sana nikmat bukanlah tujuan, tetapi bagaimana caranya dari pagi sampai sore
tak kelaparan.
Satu-satunya pohon nangka di tepi kali
Cempaka yang aku lihat itu tampak sedang subur. Di beberapa cabang dahannya
bergelantungan buahnya yang masih muda. Daun-daunnya yang cukup lebar mampu
menahan bias sinar matahari tak langsung memburu tubuhku. Berada di bawahnya
terasa teduh.
Angin masih berhembus cukup segar, walau
hawa gerah mulai sedikit terasa. Bagiku berteduh di bawah pohon nangka lebih
baik daripada seharian di dalam ruangan ber-ac. Bisa-bisa aku terkena reumatik
kalau kelamaan kena ac.
Tapi, ada yang mengganggu memang kalau
terlalu lama diam di bawah pohon nangka tersebut. Adalah bau kali cempaka. Bau busuknya
memang tidak begitu kuat. Akan tetapi, kalau kita berada di sana lebih dari
lima belas menit baru tercium. Perlahan-lahan penciuman kita akan menghirup
sendiri bau busuk yang menguap dari kali.
Entah di mana hulu kali Cempaka ini. Begitu
juga entah di mana ia berakhir. Lebar
kali kira-kira lima meter. Tentu saja air yang mengalirinya tidaklah bening. Ia
lebih menyerupai saluran yang mengalirkan nanah di tengah kota.
Ajaibnya, pohon nangka itu tetap hidup
bahkan berbuah. Begitu juga dengan orang-orang yang betah berlama-lama di tepi
kali. Apalagi Mak Iyum yang mungkin telah bertahun-tahun membuka lapaknya di
situ.
Jakarta, Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar