Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2016

Mengukur Jalan, Mengulur Waktu


Mengukur Jalan, Mengulur Waktu merupakan buku kumpulan puisi pertama saya.

Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Penerbit Gambang Buku Budaya pada akhir tahun 2015.

Untuk mendapatkan buku ini silakan kontak:
1. Jual Buku Sastra (tlp/wa: +62818-0271-752, twitter: @Jualbukusastra)
2. Ilham Miftahudin (tlp/wa: +62857-2380-1913, twitter: @ilhammift)
3. Penerbit Gambang Buku Budaya (tlp/wa: +62856-4303-9249 a.n. Dito)


Sampul depan Mengukur Jalan, Mengulur Waktu.























Judul: Mengukur Jalan, Mengulur Waktu
Penerbit: Gambang Buku Budaya
Perancang Sampul: Damar N Sosodoro
Perancang isi: Mawaidi D Mas
Tebal: viii + 61 hlm.
Ukuran: 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-72761-6-1

25 Oktober 2013

Jangan Main-main dengan Kutang



Jangan Main-main dengan Kutang
Oleh Yopi Setia Umbara

Pada Mimbar Freedom “Satu Nusa Satu Bangsat Two £anguange$” yang digelar  Freedom Institute (Kamis, 24 Oktober2013), Remy Sylado tampil dengan balutan kemeja safari putih, celana putih, dan sepatu berwarna putih. Ia menjinjing sebuah koper yang juga berwarna putih. Koper tersebut ternyata berisi naskah ceramah.

Remy Sylado ketika ceramah di Mimbar Freedom (foto: YSU)
Sejurus kemudian Remy berdiri di mimbar lantas menyampaikan ceramah kepada hadirin yang memenuhi ruang serbaguna Freedom Institute di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi No. 41, Jakarta. Naskah ceramah yang ditulisnya dengan menggunakan mesin tik itu adalah mengenai bahasa Indonesia dari jaman ke jaman.

Pada ceramahnya di Mimbar Freedom, Remy menyoroti mengenai hilangnya rasa kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Terutama ketika, “meng-Inggris-Inggriskan segala hal,” kata Remy. Fenomena itu pernah mendapat perhatian pula dari Presiden Republik Indonesia pertama.

Pada 17 Agustus 1959 Presiden Soekarno pernah menyampaikan pidato mengenai perkara ini dengan tajuk ”Penemuan Kembali Revolusi Kita.” Pada pidato itu muncul istilah ngak ngik ngok yang digunakan Soekarno terhadap hal-hal yang berbau Inggris-Amerika, baik untuk musik maupun penggunaan bahasa. Lucunya, “pada saat itu presiden (Soekarno, penulis) menegaskan pidatonya dengan menggunakan bahasa Inggris The Revolution of Our Discovery,” kata Remy.

Remy juga mengajak para hadirin yang menyimak ceramahnya pada malam itu untuk mengingat kosa kata warisan Belanda. Menurutnya, pada jaman Orde Lama banyak kosa kata peninggalan Belanda diganti dengan istilah-istilah Inggris yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. “Penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia itu tidak masalah, tapi sebaiknya dilafalkan sesuai dengan cara orang Indonesia,” tegas Remy.

Banyak penggunaan istilah bahasa Inggris di tempat umum yang menurut Remy tidak tepat. Salahsatu contoh yang sering kita lihat adalah penggunaan tanda masuk dan keluar. Jika di negara aslinya digunakan entrance untuk masuk dan exit untuk keluar, di Indonesia kebanyakan menggunakan in dan out. Apalagi di Ibukota negeri ini, Remy melihat begitu marak istilah Inggris, seperti busway, underpass, Jakarta Outer Ring Road (JORR), dan lain-lain.

Khusus untuk istilah JORR Remy berkelakar tentang seorang nenek-nenek dari Jawa yang datang ke Jakarta. “Oleh nenek-nenek tersebut, kepanjang JORR menjadi Jalan Ora Rampung-rampung,” canda Remy. Bisa jadi, itu merupakan cara jeprut Remy mengkritik tentang penggunaan istilah yang sok Inggris di ruang publik negeri ini juga mengenai pembangunan jalan di jakarta yang tidak selesai-selesai.

Remy juga tidak luput menceritakan kembali mengenai istilah “Kutang” yang awalnya populer dengan sebutan “BH” (Breast Holder) kemudian menjadi “Bra”. Istilah kutang itu sendiri berasal dari cerita mengenai pembuatan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Adalah seorang Don Lopez biang keroknya. Don Lopez melihat seorang perempuan bertelanjang dada, lantas ia menyuruh perempuan itu menutup dadanya dengan selembar kain.

“Coutant, coutant,” kata Don Lopez kepada perempuan tersebut. Maksudnya tutup benda berharga milikmu (dada perempuan). Dari situlah kemudian istilah kutang muncul, karena lidah orang Indonesia sulit melafalkan kata coutant yang berasal dari bahasa Perancis. “Jadi kutang itu benda berharga, jangan main-masin sama kutang,” cerita Remy tentang kutang tersebut disambut tawa para hadirin. Cerita ini dapat juga dibaca dalam novelnya yang berjudul Novel Pangeran Dipenogoro, Menggagas Ratu Adil (2007).

Tapi, meskipun begitu banyak kata serapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia serta para pemimpin yang kerap menyusupkan istilah Inggris ketika tampil di televisi dan sebagainya, rupanya masih ada yang bisa diteladani untuk penggunaan bahasa Indonesia. “Hanya Penyair yang paling tertib berbahasa Indonesia. Penyair teladan bahasa Indonesia yang atas,” ujar Remy yang pada tahun ini menerbitkan buku terbarunya Kamus Isme-Isme (2013).

01 Mei 2013

Sebutir Debu, Tikus, dan Lepra

Yopi Setia Umbara
Sebutir Debu, Tikus, dan Lepra

Menjadi manusia yang teguh dengan pilihan hidup, ternyata bukan perkara mudah. Apalagi jika hidup yang dipilih itu cukup beresiko. Sesuatu yang minoritas-marjinal, meski demi memperjuangkan keadilan, rupanya tak berarti apa-apa di antara paham mayoritas dan tekanan hegemoni kekuasaan. Ujung-ujungnya, konsistensi manusia semacam itu, martabatnya tak lebih berharga dari sebutir debu, tak lebih baik dari tikus, bahkan dilabeli pesakitan sampai akhir hayat. Begitulah Martin Aleida menggambarkan tokoh-tokoh dalam antologi cerpennya Mati Baik-baik, Kawan (Akar Indonesia, Maret 2009).

Tragedi Peristiwa 65, bagi Martin Aleida seperti mata air yang tak pernah berhenti menjadi sumber inspirasi dalam proses penciptaan karyanya. Di mana pembunuhan masal, penculikan, penahanan, dan pelenyapan manusia menjadi cerita paling kelam dalam catatan sejarah negeri ini. Bahkan sampai hari ini, saking kelamnya, sejarah seusungguhnya tak pernah terungkap secara gamblang.

Senja Di Jakarta: Membaca Nurani Jakarta

Yopi Setia Umbara
Senja Di Jakarta: Membaca Nurani Jakarta

Membaca Senja Di Jakarta adalah membaca nurani Jakarta. Membaca novel karya Mochtar Lubis di antara keramaian berita, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan mantan bendahara partai demokrat hingga kasus pembunuhan petani di Mesuji, Lampung, tentu membuat saya terseret agak menjauh dari realitas yang heboh jadi pembicaraan. Senja Di Jakarta yang saya baca kembali merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2009.

Tokoh-tokoh yang hadir dalam novel dengan sembilan sub judul yang merupakan nama bulan, mulai dari Mei hingga Januari, menarik perhatian saya. Setiap tokoh yang diceritakan oleh orang ketiga tersebut seolah-olah diciptakan oleh Mochtar Lubis sebagai representasi dari lingkungan dan status sosialnya masing-masing. Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah tokoh Saimun.

30 April 2013

Mengingat Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota



Mengingat Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota



Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota Bandung, Padang, Denpasar, Yogyakarta (PUstaka puJangga, 2007) merupakan salahsatu antologi puisi yang cukup penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia.

Antologi puisi ini diluncurkan sekalian dengan digelarnya Temu Penyair Muda 4 Kota yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 2-3 Februari 2007.

Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali pada tahun 2005 di Bandung.

Banyak kenangan yang bangkit kembali ketika mengingat buku ini. Banyak hal yang luput dituliskan, namun selalu membuat saya tersenyum setiap kali melihat kembali jilid buku ini.